Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Dakwah Ada di Jempol Kita

Dakwah Ada di Jempol Kita
Ragam media sosial (NU Online)
Ragam media sosial (NU Online)

Oleh Abdul Goni                 

Dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2020, PCNU Indramayu beberapa waktu yang lalu telah melaksanakan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) tepatnya pada tanggal 17-18 Oktober 2020 bertempat di Kampus Wirautama Patrol-Indramayu.

Acara pengkaderan tersebut mampu menarik minat banyak orang, baik dari kalangan pengurus NU dari PC, MWC, dan Ranting NU, bahkan dari Lembaga dan Banom NU pun banyak yang antusias. Hal itu terbukti dengan banyaknya peserta MKNU, termasuk dari kalangan umum. Hal ini menunjukkan bahwa Nahdliyyin di Indramayu masih banyak yang peduli terhadap ormas keagamaannya di tengah-tengah arus modernisasi yang terus mengglobal yang ditandai dengan semakin besarnya persaingan dakwah melalui media elektronik.

Apalagi saat ini persaingan dakwah di media sosial semakin gencar dan yang menjadi keprihatinan kita adalah orang-orang NU masih kalah bersaing dalam hal dakwah di media elektronik ini, maka pada MKNU itu disampaikan materi tentang strategi dakwah melalui media elektronik yang disampaikan oleh pakarnya, Iing Rohimin. 

Materi tersebut betul-betul dianggap baru dan sangat menarik oleh para peserta. Mereka terlihat sangat antusias jika dibandingkan dengan materi yang lain, dengan teknik penyampaian yang slow penuh canda tawa dan mudah dipahami yang dibawakan oleh jurnalis senior Indramayu dan Wakil Ketua PCNU Indramayu tersebut, menurut beberapa peserta materi itu sangat luar biasa, urgen dan harus segera dilakukan oleh para kader NU saat ini.

Pada kesempatan itu Pewarta NU Online Jabar, Iing Rohimin mengungkapkan bahwa saat ini banyak kader NU yang pandai atau fasih berbicara tetapi lemah dalam penulisan dan penguasaan media baik cetak maupun elektroni dan medsos. Hal inilah yang menjadi penyebab dakwah dari kalangan NU masih kalah viral dengan dakwah oleh kalangan ormas lain. 

Tantangan yang dihadapi Nahdliyin saat ini adalah kemajuan dunia yang serba digital, jika dilihat dari data digital dunia 2020 yang dilansir oleh We Are Social dan Hootsuite yang mengungkap beberapa hal menarik terkait perkembangan dunia digital, termasuk data tentang Indonesia. Berdasarkan tersebut disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17% atau 25 juta pengguna internet di negeri ini. Berdasarkan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Indonesia berada di peringkat tiga dengan pertumbuhan populasi yang mengakses internet sebesar 17 persen dalam satu tahun terakhir. Angka ini sama dengan 25,3 juta pengakses internet baru dalam setahun.

Sebanyak 79% pengguna internet selalu menggunakan internet setiap hari untuk menunjang kehidupannya. Lalu, ada juga sekitar 14% pengguna internet yang biasa mengakses internet hanya seminggu sekali. Lalu, sekitar 6% pengguna internet mengaku menggunakannya hanya sekitar sebulan sekali. Dan yang paling sedikit, atau sekitar 1% pengguna internet mengklaim menggunakan internet sangat jarang atau kurang dari sebulan sekali dalam setahun.

Persentase pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun yang memiliki masing-masing jenis perangkat, di antaranya mobile phone (96%), smartphone (94%), non-smartphone mobile phone (21%), laptop atau komputer desktop (66%), table (23%), konsol game (16%), hingga virtual reality device (5,1%). Ditinjau dari sisi Gender dan Umur, terlihat pengguna media sosial paling banyak dari usia 18-34 tahun, baik Pria maupun Wanita. Ini masa-masa usia sangat produktif. 

Dalam laporan ini juga diketahui bahwa saat ini masyarakat Indonesia yang ponsel sebanyak 338,2 juta. Begitu juga data yang tak kalah menariknya, ada 160 juta pengguna aktif media sosial (medsos). Bila dibandingkan dengan 2019, maka pada tahun ini We Are Social menemukan ada peningkatan 10 juta orang Indonesia yang aktif di medsos.

Berdasarkan data tersebut, menurut Iing Rohimin, maka NU harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk sarana dakwah. NU harus mampu menggunakan media untuk berdakwah sebab kelompok dan organisasi lain juga melakukan hal sama. 

Berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, terorisme, politik identitas, ideologi menyimpang di media sosial menjadi tantangan besar bagi NU untuk segera turun menyelamatkan umat pengguna medsos.

Strategi Dakwah yang harus dilakukan NU menurut Iing Rohimin adalah dengan mengembalikan pemahamaan tentang apa aitu strategi dakwah, strategi adalah perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan dakwah tertentu. Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Strategi dakwah adalah merupakan suatu metode, siasat, taktik yang dipergunakan dalam aktivitas atau kegiatan dakwah, yang peranannya sangat menentukan  dalam proses pencapaian tujuan dakwah. 

Di era  globalisasi,  dakwah  harus  memiliki  perhitungan-perhitungan  yang  jitu, melakukan analisis kondisi, antisipasi masa depan dengan pemikiran teoritik, kebijakan praktis dan sistematis serta memiliki strategi tertentu yaitu informasi dikendalikan untuk cakrawala umat Islam sekaligus memperkokoh ketahanan nilai-nilai Aswaja ala NU. Dakwah NU harus menggunakan strategi yang tepat dengan mengembangkan pada pemanfaatan teknologi informasi untuk mengambil porsi pengaruh positif yang besar terhadap para pencari informasi melalui pengembangan dakwah dengan menggunakan teknologi informasi (media cetak, elektronik, internet). 

Langkah-langkah yang harus dilakukan NU menurut Iing Rohimin di antaranya adalah kampanye sadar media di kalangan pengurus, tokoh dan warga NU, pelatihan pengelolaan media, pelatihan penulisan (jurnalistik), pelatihan public speaking berbasis media, pelatihan pembuatan konten medsos untuk dakwah, pembuatan tim media cyber di PCNU dan seluruh MWCNU, pembuatan website, blog, akun youtube untuk dakwah NU, pembuatan konten dakwah untuk grup WA, pemanfaatan media cetak, elektronik dan internet untuk dakwah NU, pembuatan aplikasi berbasis android untuk berbagai item ke NUan, pembuatan website NU terintegrasi industri 4.0 dan turunannya, digitalisasi keorganisasian NU dan pemanfaatan forum keagamaan (pondok pesantren, sekolah, majelis taklim, jam’iyah, masjid dan musholla) sebagai produsen materi dakwah untuk dipublikasikan lewat medsos.

Strategi dakwah tersebut pada praktiknya saat ini berada di jempol kita, bagaimana kita memanfaatkan jempol ini digunakan bukan hanya untuk kepentingan mengakses dunia digital untuk hiburan dan menjalin hubungan dengan orang lain melalui dunia maya, melainkan mampu dimanfaatkan untuk menyebarkan dakwah dari mulai hal terkecil dengan mencegah penyebaran hoaks, membuat status di medsos yang berbau ke NUan dan keagamaan, melike dan share produk medsos yang dibuat oleh Nahdliyin. Tak hanya itu dengan jempol pula kita bisa mencegah diri membuka konten dakwah yang dikeluarkan oleh kelompok radikal dan para pengusung khilafah serta membuat website, akun YouTube untuk dakwah NU dan penggunaan medsos untuk dakwah NU. 

Demikian beberap hal penting terkait tantangan dakwah NU yang kita hadapi. Semoga dengan kesadaran bahwa dunia saat ini berada dalam genggaman kita melalui gadget dan jempol kita sangat menentukan untuk kepentingan tersebut, maka jika seluruh jempol Nahdliyin di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya setiap hari digunakan untuk memperkuat dakwah NU, maka akan mampu mendorong kebesaran NU dan mampu memenangkan perang media dengan kelompok lain.


Penulis adalah mahasiswa STIDKI NU Indramayu Prodi KPI Semester 7