Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Cita-cita Saya yang Berangsur Luntur 

Cita-cita Saya yang Berangsur Luntur 
(Foto: NU Online Jabar)
(Foto: NU Online Jabar)

Oleh Yahya Ansori
Sambil memanggul setumpuk daun pisang di kepala tak lupa saya memikirkan cita-cita. Saat itu saya sudah menginjak bangku SMP. Terpikir di otak saya tentang keadilan, tentang kekuasaan era Soeharto yang sedang jaya-jayanya. Tak luput dari perhatian saya ketika sedang di kebun pisang, pemilik perkebunan terbesar adalah Tutut anak pak Harto, penguasa cengkeh adalah Tomy anak pak Harto. Saya menyusur lorong-lorong kebun pisang mengambil daun yang jatuh untuk saya kumpulkan satu persatu. Kebun pisang itu milik Uwa saya wa Sopan namanya.

Seperti anak-anak yang lain, idola saya tentu Albert Einstein, bagi anak-anak kecerdasan adalah luar biasa. Tapi bukan kecerdasannya yang membuat saya tertarik, seharusnya ilmu pengetahuan itu membantu saya, membantu kesulitan-kesulitan saya. Apakah energi yang dipikirkan Einstein dikemudian hari dapat memudahkan hidup saya. Dan ketika kaki saya terantuk batu yang hampir membuat saya terjatuh ke kali, sambil istirahat saya pegang batu tersebut dan membatin “Jika saja batu ini bisa diubah menjadi energi seperti yang dipikirkan Einstein tentang hubungan massa dan energi, dan energi itu diubah menjadi listrik maka manfaatnya luar biasa sekali”.

Yang terpikir ketika keluar SMP itu adalah menjadi ahli nuklir, meski berliku saya coba tetap terus semangat belajar tapi takdir berkehendak lain. Di pendaftaran UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri) petugas melarang saya memilih Teknik Nuklir UGM karena tidak linier dengan jurusan saya waktu di STM. Ya sudah daripada tidak lanjut, saya lanjut saja masuk Teknik Elektro IKIP Jakarta.

Di kampus, saya justru melanjutkan pemikiran-pemikiran saya waktu di SMP ya berbaur dengan kelompok pergerakan mahasiswa, berjuang menumbangkan Soeharto dan alhamdulillah cita-cita saya waktu SMP itu berhasil. Bagi saya yang tidak menikmati banyak fasilitas seperti anak presiden waktu itu menganggap ‘kepemilikan’ itu tidak adil. Buat apa saya harus menghapal soal sila keadilan sosial, setiap hari saya menyaksikan ketidakadilan.

Cita-cita saya sudah tercapai setelah pak Harto turun, tapi perjuangan soal keadilan itu ternyata tak pernah tercapai. Peristiwa pembunuhan di lahan HGU PG Jatitujuh kemarin adalah sebagian kecil peristiwa yang dilatar belakangi oleh ketidakadilan tersebut. Ada mereka yang menguasai tanah ribuan hektar, ada banyak rakyat yang tak punya lahan sedikitpun untuk sekedar menanam singkong yang dikemudian hari dia bisa makan. Kita mungkin punya konsep segudang untuk melaksanakan Landreform tapi entah kapan rakyat diberi akses pada hak atas tanah toh negeri ini luas dan subur.

Kemakmuran itu pada dasarnya bisa dibagi tapi masalahnya siapa yang akan mau berbagi, tentu harus menjadi kesadaran kolektif agar dirasa penting soal berbagi dalam kemakmuran. Tapi jika yang banyak adalah ‘ketidaksadaran’ maka penting juga untuk menciptakan ‘kewarasan’ dalam ‘ketikdakwarasan’ kolektif. 

Salah satu anggota DPRD Provinsi asal karangampel yang namanya ada ‘muslim-muslimnya’ terbukti korupsi 9 milyar dihukum 5 tahun penjara, sementara maling ayam seharga 50ribu rupiah dihukum 6 bulan penjara, coba kita hitung pakai matematika pas atau tidak kira-kira perbandingannya, bisa jadi hakimnya Muslim juga.

Cita-cita saya boleh luntur, ketidakadilan boleh tumbuh subur, tapi hidup kita tak boleh ngawur. 

Penulis adalah Alumni SMPN Karangampel