Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Cirebon-Surabaya

Cirebon-Surabaya
Santri-santri sedang memperingati Hari Santri (Foto: NU Online)
Santri-santri sedang memperingati Hari Santri (Foto: NU Online)

Oleh Dodo Widarda

Kami, batang-batang bambu runcing para pejuang
dibawa dari Cirebon ke Surabaya jadi saksi.
Pekik merdeka serta Allahu Akbar bergaung lantang
kemerdekaan diperjuangkan jadi harga mati.

Dalam perjalanan menembus kabut harapan, juga impian
dari kyai serta ratusan santri yang berjejal di kereta ini,
kami mendengar lengking peluit kereta, seperti komando malaikat
yang memberi titah langkah semakin berani,
membela kemerdekaan tanah perjuangan ini. 25 Oktober,
Inggris akan menancapkan kekuasaan bagi
Belanda di tanah merdeka yang kita punya.

Kami batang-batang bambu runcing
bergerak menghunus musuh sampai mati.
Senjata-senjata modern bikin genting
Tak pernah takut kami hadapi.

Kami senjata para kyai, santri serta patriot bangsa ini.
Camkan hakikat kesaksian kami: bukan kami yang membuat
musuh bergelimpangan hilang ruh dari badan,
tetapi Allah yang telah melemahkan mereka.
Bukan kami yang melempar, tetapi Allah yang melempar,
AWS Malabby meregang nyawa pada pertempuran ini.

Kami menyertai para kyai, KH Hasyim Asyari,
KH Munasir Ali, KH Abbas Buntet Cirebon,
KH Amin Sepuh Ciwaringin…Ki Solihin
bersama ribuan santri dan pemuda Surabaya
pada pertempuran 10 November 1945,
terpanggang bara Resolusi Jihad Hadratus Syekh,
pekik Allahu Akbar Bung Tomo membakar jiwa kaum muda,
doa-doa secepat kilat menembus langit pekat
dan kemerdekaan kembali ditebus dengan darah,
serta keberanian fî sabîlillâh:
Esa hilang dua terbilang!

Kami, batang-batang bambu runcing jadi saksi
sifat sepi ing pamrih para kyai, hati-hati!
Orang sepi ing pamrih tak bisa dilukai!
Sebilah pisau yang kau lemparkan padanya
akan berbalik menikam penista.
Inilah rahasia mutu manikam Palagan Surabaya.
2016