Cerita di Balik Dinding NU

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Ajengan Bubung Nizar berpose di dinding ikon NU yang dibuatnya. (Foto: FB Bubung Nizar)
Ajengan Bubung Nizar berpose di dinding ikon NU yang dibuatnya. (Foto: FB Bubung Nizar)

Oleh Bubung Nizar

Sebuah kebanggaan di kala membuat dinding NU di Pesantren Al-Mukhtariyah yang saya asuh. Bukan hanya sekedar mengukir atau membuat lambang NU di dinding pesantren. Jika hanya menggambar, tentu gampang. Tetapi ada yang lebih penting dari itu. Kurang lebih lima hari di bulan Semptember 2020, saya membuat dinding lambang NU ini.

Tentu yang pertama saya lakukan adalah tawassul untuk para para pendiri dan para masyayikh NU. Khawatir berlaku ceroboh dan gegabah. Tak henti-hentinya saya berpikir. Hanya meniru lambangnya saja betapa menuntut kita untuk fokus. Apalagi menciptakan dan mendirikannya.

Tentu, bukan tanpa alasan. Di antara sekian alasan kenapa saya membuat dinding NU ini adalah:

Pertama, supaya jelas, bahwa secara pribadi saya dan keluarga bersyukur menjadi jamaah NU.

Kedua, saya membayangkan bagaimana para muassis mendirikan NU. Bagaimana perjuangan mereka mendirikan NU. Sebab ternyata tak sedikit orang yang hanya memanfaatkan NU. Tidak malu dengan para pendiri yang telah berjuang keras melawan dahsyatnya perjuangan.  Sungguh cilaka jeung suul adzab, jika hanya menggunakan NU sebagai alat kejayaan pribadi.

Ketiga, bersyukur bisa bertabaruk pada jamiyyah NU, pada para masyayikh semuanya, semoga saya dan keluarga diakui oleh Mbah Hasyim Asy’ari santrinya. Juga diakui sebagai santri para masyayikh NU lainnya.

Keempat, semoga karya ini menjadi wasilah agar tetap istikomah bermanhaj ala Ahlussunnan wal Jama’ah An-Nahdliyyah

Kelima, mulai pada 6 september 2020, dinding NU ini saya jadikan sebagai satu ikon, bahwa tanda orang yang telah bersilaturahim ke Pesantren Al-Mukhtariyah adalah dengan berfoto di dinding NU ini.

Semoga berkah. Amin

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Al-Mukhtariyah Mangkubumi  Kota Tasikmalaya.