Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Bermain Sepak Bola Sambil Berpuasa

Bermain Sepak Bola Sambil Berpuasa
Laga Persib dan Persija pada pertemuan pertama (Foto: .bolasport.com)
Laga Persib dan Persija pada pertemuan pertama (Foto: .bolasport.com)

Oleh Abdullah Alawi 

Tadi malam, Persib Bandung mengalami kekalahan pada final Piala Menpora. Sebagai bagian dari masyarakat Jawa Barat, tentu saya kecewa. Rasanya hampa dan membuat tidur tak nyenyak. Namun ya bagaimana lagi selain menerima dan berharap di lain kesempatan mendapatkannya. Toh, dunia mungkin belum berakhir...

Final sepak bola itu berlangsung pada bulan puasa. Namun, bisa dipastikan, pemain kedua kesebelasan berikut pelatih dan wasit serta para penontonnya tak ada yang sedang berpuasa. Pasalnya permainan berlangsung pada malam hari. 

Lalu, bagaimana jika bermain sepak bola itu dilakukan pada siang hari saat menjalani puasa? Bagaimana hukumnya? 

 

Saya tentu saja tak bisa menjawabnya karena bukan ahli hukum fiqih. Di tulisan ini pun tak berani menjawabnya. Saya hanya ingin menyajikan kisah tentang sepak bola di bulan puasa yang diceritakan pada buku Dongen Enteng ti Pasantren karya Rahmatullah Ading Affandi atau RAF. 

Buku yang dinilai sebagai otobiografi atau pengalaman si penulisnya itu, RAF mengisahkan pengalaman semasa di pesantren. Pada saat bulan puasa, selain mengaji sebagaimana umumnya di pesantren, ajengan menganjurkan untuk bermain sepak bola.  

Sekadar diketahui, ajengan pada cerita tersebut memiliki hobi olahraga seperti sepak bola. Ia sering turut serta bermain bersama santri-santrinya. Tak hanya itu, bahkan ajengan memiliki minat pada kesenian, yaitu menonton tunil (teater) yang diperankan para santrinya dan tembang-tembang Sunda. (halaman 42) 

Khusus tentang olahraga sepak bola, RAF menceritakan ajengan tersebut seperti berikut,  

Ajengan ku anjeun nganjurkeun maen-bal (sepak bola) bulan puasa teh. Salian ti itung-itung ngabuburit teh jeung latihan nahan napsuna leuwih enya-enya. Pada terang ieuh, yen lamun keur puasa mah sok dareukeut pisan kana piambekeun teh. Dina maenbal mah nahan napsu ieu teh leuwih beurat. Sabab mun ngambek, salian ti teu hade teh, jeung matak batal puasa deuih ari bulan puasa mah. Naon hartina ngabuburit ari matak batal puasa mah.” (Dongen Enteng ti Pasantren”, halaman 46). 

Terjemahan bebasnya: 

“Kiai menganjurkan main sepak bola pada bulan puasa. Selain untuk menunggu buka puasa, main sepak bola sebagai upaya latihan menahan nafsu. Kita tahu pada saat puasa dekat untuk marah. Pada saat main sepak bola menahan nafsu lebih berat lagi. Jika marah, selain tidak baik, bakal menyebabkan batal puasa. Buat apa ngabuburit jika menyebabkan batal puasa.”  

 

RAF tidak menyebutkan nama ajengan tersebut. Namun, pada bagian permulaan buku tersebut, ia menjelaskan selintas tentang profil sang ajengan. Ia menulis seperti ini pada halaman 8:

“Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, ‘Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur’.” 

RAF yang memang pernah kuliah di perguruan tinggi membandingkan ajengan dengan profesor dalam menjelaskan sesuatu. Misalnya ketika ajengan menjelaskan dengan cara cawokah (mesum), tujuannya agar mudah diingat santri pada halama 8.  

“Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa. Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.”  

Lalu, apakah tulisan ini menjawab pertanyaan yang saya ajukan sendiri sebagaimana disajikan di muka tulisan? Saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu adalah Persib kalah. Itu saja. 

Penulis adalah bobotoh Persib