Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download
Kolom Agung Purnama

Bencana dan Management Disaster Ala Karuhun

Bencana dan Management Disaster Ala Karuhun
Lukisan Erupsi Gunung Tambora. (Koleksi National Geografhic Indonesia)
Lukisan Erupsi Gunung Tambora. (Koleksi National Geografhic Indonesia)

Sejarah kehidupan manusia tidak lepas dari berbagai tantangan dari masa ke masa. Jika pada tahun 2020 ini manusia dihadapkan pada musibah berupa hadirnya wabah Covid-19, maka musibah dan bencana lain sesungguhnya telah melanda umat manusia dari sejak masa lampau. Secara sederhana, bencana dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama ada bencana alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, angin topan, dan wabah penyakit. Kedua ada bencana social, yang ditimbulkan oleh manusia seperti konflik, perang, teror, kelaparan, kemiskinan, dan lain-lain.

Dalam catatan sejarah, terjadinya bencana alam maupun bencan social, seringkali mengubah atau menentukan arah perjalanan umat manusia ke depan. Misalnya, letusan Gunung Tambora pada April 1815, bukan hanya menghilangkan eksistensi tiga kerajaan besar di sekitarnya (Kerajaan Tambora, Papekat, dan Sanggar), juga turut andil atas jatuhnya kekuasaan Napoleon Bonaparte yang dijuluki The Lion of Europe (Singa Daratan Eropa). Sang Kaisar Perancis yang hampir menguasai seluruh daratan Eropa sejak ekspansi pertamanya tahun 1792, akhirnya harus mengalami kekalahan pada pertempuran Waterloo pada 18 Juni 1815. Ia dan pasukannya porak-poranda ketika melakukan ekspansi ke daratan Russia, dihadang cuaca buruk berupa hujan lebat, lumpur tebal, dan hawa dingin yang ekstrim.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Matthew Genge dari Imperial Collage London, mengemukakan bahwa partikel kecil dari abu vulkanik seperti sulfur dioksida, telah menahan lewatnya cahaya matahari, yang berefek pada pendinginan bumi di belahan utara. Abu vulkanik yang juga mengandung unsur listrik, berpengaruh pada pembentukan awan yang menutunkan hujan lebat di Eropa. Penyimpangan iklim pada tahun 1815 tersebut dikenal sebagai "The Years Without Summer."

Contoh lain, munculnya pemberontakan petani di Banten pada tahun 1888 terhadap pemerintah Kolonial Hindia Belanda, salah satu faktor penyebabnya adalah karena kondisi ekonomi yang sulit pasca meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Juga, cerita-cerita seputar pemindahan pusat kekuasaan atau pemerintahan, banyak diakibatkan oleh adanya bencana. Misalnya, antara tahun 928-929 M, perpindahan ibu kota Kerajaan Mataram Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Raja Mpu Sindok, itu diakibatkan adanya letusan Gunung Merapi.

Bencana wabah di Kota Lama Batavia mendorong Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) memindahkan pusat pemerintahan dan militer ke daerah Weltevreden atau daerah Gambir dan sekitarnya. Kemudian, memasuki tahun 1916, Hendrik Freerk Tillema, seorang ahli kesehatan lingkungan, mengusulkan kepada Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum (1916-1921) untuk memindahkan ibu kota Hindia Belanda, mengingat Batavia adalah wilayah yang sering dilanda wabah. Rencananya, ibu kota akan dipindahkan ke Bandung, namun rencana ini urung terlaksana karena Hindia Belanda dilanda musibah lain berupa resesi ekonomi dunia tahun 1930-an.

Selain contoh-contoh di atas, tentu ada banyak lagi musibah dan bencana yang melanda, menjadi pengiring bagi dinamika kehidupan manusia di muka bumi. Manusia mungkin tidak akan bisa menghentikan bencana. Akan tetapi manusia selalu bisa beradaptasi dan memberikan respon terhadap setiap challenge yang dihadapi, atau setidaknya bisa melakukan tindakan yang antisipatif. Para leluhur umat manusia sudah mencontohkan itu. Mereka memiliki management disaster yang biasanya terkandung dalam kebudayaan tradisional dan local wisdom masing-masing. Aturan dan larangan, dicatat dalam bentuk naskah, atau dalam bentuk aturan tidak tertulis berupa pamali (tabu), mitos, dan pikukuh yang diwariskan secara turun temurun. Dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, orang Sunda dilarang menempati tanah kotor seperti sodong, sarongge, rancak, cadas gantung, mungkal patengang, kebakan badak, catang nunggang, lemah sahar, dangdang warian, pitunahan celeng, hunyur, kalomberan, jaryan, dan kuburan.

Pada masa kuno, masyarakat sudah memiliki aturan tentang pengelolaan lahan, air, dan udara, yang pantang untuk dilanggar. Dalam kebudayaan masyarakat adat Kanekes (Baduy), leuweung (hutan) dibagi menjadi leuweung garapan, leuweung tutupan, dan leuweung larangan. Pada kebudayaan Jawa, pepohonan banyak disimpeni sesajen. Di Bali, pohon-pohon dibalut kain, atau diletakkan tengkorak manusia di bawahnya, seperti di Desa Trunyan. Itu semua, sejatinya merupakan upaya melindungi sumber cadangan air dan oksigen yang terkandung dalam pepohonan.

Mistisisme yang disematkan kepada alam tersebut, bukanlah sebuah praktik kesyirikan seperti yang sering dituduhkan oleh sekelompok manusia yang buta akan pemahaman pada alam fikiran dan kebudayaan para Karuhun. Segala sakralitas yang ditabukan, semata demi kelestarian lingkungan dan keseimbangan kehidupan. Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, larangan teu meunang direumpak, buyut teu meunang dirobah, sangkan kahirupan manusa hurip tur waluya.

Penulis adalah Alumni Departeman Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia dan Prodi Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran. Aktif mengajar di Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung.