Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Belajar Menghayati Baiat dari Banser Abdul Hanan

Belajar Menghayati Baiat dari Banser Abdul Hanan
Banser Abdul Hanan (Foto: Istimewa)
Banser Abdul Hanan (Foto: Istimewa)

Saya menghadiri acara Kajian Ahlussunah wal Jamaah (Kiswah) dan Pelatihan One Ranting One Jurnalis (OROJ) di Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Pada kegiatan yang diselenggarakan GP Ansor PAC Purbaratu Kota Tasikmalaya itu, saya bertemu dengan seorang Banser yang bernama Abdul Hanan. Badannya kurus, kulitnya putih keriput menandakan sudah dimakan usia puluhan tahun. Sementara tinggi badannya sekitar 150cm.

Menurut Ketua GP Ansor PAC Purbaratu, Pak Abdul Hanan ini selalu ada mengawal setiap acara NU. Dari raut mukanya, ia Banser paling tua di acara itu. Namun, ketika orang lain tertidur lelap, karena waktu sudah menunjukkan pukul 01:00, ia masih tetap menjaga acara tersebut. Saya pun mendatanginya untuk sekadar berbincang-bincang.

"Boleh saya duduk di sini, Pak?" saya memulai pembicaraan. 

"Eh.. silakan silakan. Kebetulan ini saya sedang ngopi. Ini rokoknya, Kang, tapi maaf rokoknya Jarcok," jawabnya dengan muka tanpa rasa kantuk sedikit pun. 

Saya pun bergumam dalam hati, orang tua kok masih semangat ya? Padahal sudah lewat tengah malam, saya juga yang masih muda sudah agak ngantuk waktu itu. Setelah terlibat perbincangan perkenalan, saya bertanya masalah umurnya. 

"Umur saya sekitar 50 tahunan kang, lahir tahun 71," jawabnya. 

“Waw,” pekik saya dalam hati. Saya membatin, seharusnya umur segitu sudah waktunya mulai banyak istirahat dan pensiun begadang. Satu lagi, sudah mulai harus bawa balsem. Tapi Pak Abdul Hanan ini kok tidak saya lihat bawa balsem atau sejenis itu ya? Saya sempatkan untuk bertanya kembali.

"Pak, kenapa belum pulang, ini sudah pukul 01:00 lebih lho, Pak, harusnya seumuran Bapak itu jaga kesehatan dan jangan banyak gadang," komentar saya. 

"Acaranya kan belum selesai. Jadi, ya nantilah saya pulangnya setelah acara ini selesai. Lagi pula karena pandemi sudah lama, saya lama tak jaga acara seperti ini," jawabnya yang diteruskan mengisap rokoknya. 

Setiap jawabannya membuat saya penasaran, ingin tahu apa rahasia kesemangatannya ini.

"Pak, kok Bapak bisa sesemangat ini sih? Bapak sudah tua lho pa?" komentar saya.

"Saya hanya menjalankan baiat saya sebagai Banser, Kang. Akang tahu sendiri kan baiat itu sebuah janji kita kepada Allah?"  

Jawabannya itu buat saya sejenak tertegun. Pasalnya, jangankan orang lain, saya sendiri pun suka lupa akan sumpah saya sewaktu dibaiat. Wah, ternyata saya dapat ilmu yang sangat berharga. Namun selain jawaban itu ia juga menuturkan.

"Kebetulan semua keluarga saya dulu juga NU. Jadi, bagi saya khidmah di NU itu sudah menjadi suatu yang wajib," katanya dengan ketawa kecil sambil menepuk punggung saya. 

Informasi lain yang saya dapatkan dari sahabat-sahabatnya di Banser NU bahwa dia adalah Banser yang selalu mengajak dan memberi semangat kepada orang lain untuk selalu khidmah di NU.

Tak terasa waktu pun begitu cepat berlalu, saya pun izin pamit pulang. Saya yang masih muda ini harus belajar tentang arti baiat dan menghayatinya sebagaimana Pak Banser Abdul Hanan.

Penulis: Ilham Abdul Jabar
Editor: Abdullah Alawi