Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Bagi NU, Cegah Covid-19 Merupakan Perintah Agama

Bagi NU, Cegah Covid-19 Merupakan Perintah Agama
NU punya kepedulian untuk menjadi bagian dari upaya mencegah penyebaran Covid-19
NU punya kepedulian untuk menjadi bagian dari upaya mencegah penyebaran Covid-19

Selama masa pandemi Covid-19, Nahdlatul Ulama tidak berpangku tangan. Di tingkat pusat, PBNU meminta tiga lembaga untuk membentuk satgas. Ketiga lembaga itu adalah Lembaga Kesahatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBINU), dan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU).

Ketiga lembaga tersebut kemudian membentuk Satgas NU Peduli Covid-19. Tugasnya untuk preventif, kuratif maupun sosial-ekonomi bagi kelompok rentan terdampak. Terhitung sejak 12 Maret-11 April 2020, Satgas Nu Peduli Covid-19 telah berada di 28 Provinsi dan 300 Kabupaten/Kota. Aktivitas satgas tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang. 

Satgas NU Pedul Covid-19 ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, salah satu di antaranya dari Humanity Matters Singapura di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (16/4). 

Humanity Matters Singapura memberikan bantuan berupa 87 karton berisi 70 ribu masker, 5.000 sarung tangan, 2.500 alat pelindung Diri (APD), 100 termometer, dan 100 ribu tablet vitamin C.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat menerima bantuan tersebut, mendapatkan pertanyaan dari salah seorang wartawan.

“Kenapa NU harus bersusah-payah turut menangani Covid-19? Bukankah NU adalah ormas keagamaan? 

"Perintah agama! Ini perintah agama!" tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menjawab dengan cepat, sebelum pertanyaan wartawan itu usai.  

Kemudian dengan segera pula, Kiai Said menukil hadits. Laysa minna man lam yahtama bi amril muslimin. Nabi Muhammad SAW bersabda, "bukan umatku kalau seseorang tidak peduli kepada sesama umat Islam".  

Menurut dia, Satgas NU Covid-19 adalah bentuk kepedulian warga NU kepada tetangga-tetangganya. Sedangkan peduli kepada tetangga adalah perintah agama juga yang dianjurkan Rasulullah.   

Kiai Said pun kemudian mengutip salah satu hadits. Laysa minna man bata syab'anu wa jaruhu jai'un. "Bukan orang mukmin jika seseorang dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan." Hadits-hadits itu memiliki semangat untuk peduli kepada tetangga.  

"Banyak sekali perintah-perintah agama untuk peduli sesama. Banyak sekali. Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, mari kita bergotong-royong, bersama-sama satu barisan dalam membangun hal-hal yang positif. Banyak sekali dalilnya pokoknya. Walhasil, amal yang positif walaupun kelihatannya bukan agama, tapi sebenarnya agama," jelasnya. 

NU Organisasi Sosial Keagamaan
Melihat peran NU sepanjang sejarah, organisasi yang dideklarasikan pada 16 Rajab 1344 bertepatan dengan 31 Januari 1926 ini turut berjasa bukan hanya pada bidang keagamaan, tetapi pendidikan, ekonomi, kesehatan, budaya, sosial-kemasyarakatan, politik kebangsaan, dan politik kerakyatan. 

Sebab itu, para kiai merumuskan bahwa NU adalah jam'iyyah diniyyah ijtima'iyyah (organisasi sosial keagamaan). Problem apa pun jika hal itu berdampak pada kehidupan sosial-kemasyarakatan dan kebangsaan, NU tentu saja terlibat untuk turut membantu menyelesaikan. 

Bahkan, atas peran lintas sektor tersebut, para sarjana Barat yang meneliti tentang NU menyebut bahwa organisasi ini merupakan bagian dari civil society. Karena turut berjasa memajukan peran-peran kemasyarakatan, bahkan turut memperkuat eksistensi bangsa dan negara.

Upaya Kesehatan NU Jawa Barat Sejak 1941 
Pada masa perkembangan NU di Jawa Barat, terdapat upaya dalam bidang kesehatan. Pada tahun 1941, NU Bandung mendirikan poliklinik di Ciparay. Klinik tersebut diresmikan KH Abbas Buntet. 

Bukti-bukti adanya klinik tersebut bisa kita lihat di majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) yang diterbitkan PBNU pada tahun tersebut

Dengan demikian, jika hari ini Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan) menekankan penggunaan masker kepada seluruh warga NU, bukan hal aneh. NU punya jejak sejarah. Upaya kesehatan sudah dilakukan NU sejak masa pertumbuhan. 

Tidak aneh juga kemudian jika Muslimat NU dalam waktu dekat ini akan berkeliling membagikan ribuan masker ke 27 kota dan kabupaten. (Abdullah Alawi)