Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Awalnya Adalah Cita-cita Menjadi Doktorandus

Awalnya Adalah Cita-cita Menjadi Doktorandus
Ilustrasi kocak menggambarkan proses sulitnya menyelesaikan studi di perguruan tinggi (FB: memes.college.life)
Ilustrasi kocak menggambarkan proses sulitnya menyelesaikan studi di perguruan tinggi (FB: memes.college.life)

Oleh Amin Mudzakkir
Hingga awal 1990-an, imajinasi tertinggiku mengenai sekolah adalah "Drs", doktorandus. Bagi seorang anak madrasah ibtidaiyah (MI) di pinggiran kota Tasikmalaya sepertiku saat itu, gelar Drs sudah terasa puncak. Kecuali kepala sekolah atau kepada kantor urusan agama (KUA) atau sejenisnya, di daerahku jarang sekali orang yang mempunyai gelar itu. Karenanya, cita-citaku adalah meraih doktorandus, sudah cukup. 

Demikian pula imajinasiku tentang pekerjaan. Bercermin pada pekerjaan ayahku sebagai guru, maka pekerjaan itu pula yang hinggap di benakku. Guru pun guru agama dan semacamnya. Kalau pun bekerja di luar itu, ruang lingkupnya terbatas di lingkungan departemen agama. Imajinasi anak-anak dan remaja santri sejatinya seterbatas itu. 

Dalam perkembangannya, selepas madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah, aku masuk ke sekolah umum, bukan lagi sekolah agama. Lalu ke universitas umum. Tidak hanya SI, tetapi juga S2 dan S3. Bidang keilmuannya jauh dari apa yang aku imajinasikan sebelumnya. Ketika duduk di madrasah tsanawiyah, aku sering ledek-ledekan dengan sepupuku, Husna Mustofa yang sekarang menjadi kepala KUA, mengenai hal ini. Tidak ada sama sekali keinginan belajar sejarah dan apalagi filsafat. Apa yang aku pelajari sekarang merupakan sesuatu yang datang belakangan. 

Termasuk dalam hal ini adalah pekerjaan. Bahkan hingga akhir kuliah S1, aku tidak mempunyai imajinasi menjadi peneliti dalam pengertian formal. Setahuku hanya mas Ahmad Suaedy yang mencantumkan "peneliti" sebagai pekerjaan di kolom KTP-nya. Peneliti adalah pekerjaan yang asing dan akan tetap asing. Orang-orang di kampungku biasanya mengernyitkan dahi ketika dikatakan bahwa pekerjaanku di Jakarta adalah peneliti. 

"Oh semacam PNS," kata mereka kalau diberi penjelasan lebih jauh. 

Kesimpulannya adalah hidup itu tidak mempunyai kesimpulan. Mengalir begitu saja seperti air sungai di lukisan-lukisan naturalistik yang biasa tergantung di rumah-rumah pegawai kelas rendahan. Bahkan paragraf terakhir ini tidak aku rencanakan sejak awal, tiba-tiba saja muncul dalam pikiran. Mungkin inilah hasil sekolah tinggi-tinggi itu, membiasakan menulis apapun yang mungkin tidak ada gunanya bahkan bagi penulisnya sendiri.

Penulis adalah Peneliti BRIN