Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Asal Berdalil, Asal Kutip Ayat

Asal Berdalil, Asal Kutip Ayat
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh KH Muhtar Gandaatmaja

Jumat beberapa bulan lalu khutbah di salah satu Masjid dalam Kota Bandung. Pengurus Masjid itu tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik layaknya Masjid di perkotaan. Tempat cuci tangan ada, tapi alakadarnya saja. Karpet lama masih terpasang. Sebagian besar jamaah tidak memakai masker. Shaf (barisan)nya tidak berjarak, rapat seperti dalam kondisi normal. 

Kepada pengurus yang akan membacakan pengumuman, kami titip pesan agar ia memberitahu jamaah yang akan melaksanakan Shalat Jumat hendaknya menaati protokol kesehatan. Ia mengangguk tanda mengiyakan atas apa yang kami usulkan. 

Di luar dugaan, setelah menyampaikan beberapa macam pengumuman termasuk laporan keuangan dan lain-lain, apa yang beliau sampaikan tidak dengan tegas menyinggung tentang masalah protokol kesehatan, tapi hal lain. 

“ … dan kami mohon kepada jamaah agar duduk dengan menjaga jarak. Dan yang lebih penting dari itu kita dan ahli kita harus menjaga jarak dari api neraka, sebagai mana dalam Al-Qur’an ‘Quu anfusakum wa ahlikum nara,’ jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

Ia mengutip penggalan ayat 6 surat At-Tahrim. 

Sepengetahuan kami ayat ini berkaitan dengan kewajiban kita agar menyelamatkan diri dan keluarga dari perbuatan dosa dan maksiat agar terjaga dari neraka. Tidak ada hubungannya dengan protokol kesehatan, social distancing.

Tidak lama setelah itu, hal serupa terjadi di Bekasi dan viral di medsos. Ketua DKM-nya mengusir seorang yang akan shalat di masjid itu karena memakai masker.

“….gini, kan ini Masjid, kita harus membedakan masjid dengan pasar… kata agama ...dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 36, wa man dakhalahu kana amina…” katanya berdalil. 

Mungkin yang dimaksud olehnya surat Ali Imron ayat 96-97, ayat tentang ibadah haji. Bukan Ali Imran ayat 36, sebab ayat ini mengisahkan tentang lahirnya Siti Maryam. 

Kalimat “wa man dakhalahu kana amina,” menjelaskan tentang jaminan Allah terhadap orang yang akan masuk ke dalam Masjidil Haram agar tidak ragu dan takut memasukinya. Siapa yang masuk kawasan (Masjid) Al-Haram, dijamin Allah, aman. Tidak ada hubungannya dengan larangan memakai masker di Masjid.

Tiga pekan setelah itu ada lagi kejadian serupa, masih di Kota Bandung. Seseorang, sesama jamaah, meminta jamaah yang memakai masker agar melepasnya. Alasannya, ketika shalat hidung dan mulut tidak boleh terhalang benda lain. 

“Itu tata cara yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya dalam melaksanakan ibadah. Kita wajib mematuhi-Nya. Keharusan memakai masker itu perintah manusia. Kita tidak wajib menggubrisnya,” katanya bersemangat.

Sebelum keluar masjid kami bisikan kepadanya.

“Pak, nanti kalau Bapak mengendarai kendaraan di jalan raya, jangan hiraukan semua rambu-rambu lalu lintas. Terobos saja. Boleh kok, dan tidak berdosa karena semua aturan itu buatan manusia.”

Ia bengong dan pergi. Wallahu A’lam.

Penulis adalah Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar, Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung