Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Anak Muda NU Jadilah Abdullah Jangan Jadi Abdul Butun dan Pol PP

Anak Muda NU Jadilah Abdullah Jangan Jadi Abdul Butun dan Pol PP
KH Masmu Fudholi (Foto: NU Online Jabar)
KH Masmu Fudholi (Foto: NU Online Jabar)

Sukabumi, NU Online Jabar
Ajengan muda NU asal Sukabumi selatan, KH Masmu Fudloly berharap agar anak muda NU harus menjadi abdullah, bukan abdul butun dan Pol PP atau politisi pengasong proposal, karena dengan begitu akan memperburuk citra NU itu sendiri. 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aman ini mengingatkan kalau mau berpolitik harus mengetahui pedomannya yang sudah dirumuskan NU. Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh misalnya, pernah mengatakan bahwa politik NU diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi, yakni politik kebangsaan, kerakyatan dan etika politik. 

"Pada hakikatnya kita ini abdullah (hambanya Allah) bukan abdul butun (hambanya perut),” katanya di kediamannya, Rabu, (23/12). 

Ajengan Masmu justru mengharapkan agar anak muda NU harus mengembangkan ekonomi mandiri  pesantren berikut kiainya. Jangan sampai berpolitik yang menghilangkan muru'ah (wibawa) pesantren dan kiainya. 

Menurut mantan aktivis IPNU Kabupaten Sukabumi ini, hal tersebut sudah dicontohkan para pendiri NU semisal Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan kiai-kiai lain yang mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi) sebelum mendirikan NU. 

“Anak muda NU gerakannya jangan berlaga seperti politisi, apalagi politisi pengasong proposal (Pol PP)," tegasnya lagi.

Dirinya juga sedang memikirkan format yang tepat agar teknologi mampu membantu terhadap pengembangan ekonomi pesantren demi melanjutkan perjuangan ayahnya, KH Fudholy, yang menyebarkan dakwah Aswaja an-nahdliyah melalui pesantren semasa hidupnya.

Di antara yang sedang diupayakannya adalah mengemas pengembangan ekonomi pesantren dengan menggandeng salah satu bank milik BUMN. 

“Pesantren itu harus visioner,” katanya. 

Ia bercerita, ayahnya mencontohkan cara berpikir visioner dengan mengintegrasi pesantren salafi yang berdiri 1954 dengan pendidikan formal sejak 1980. Untuk pertama melalui unit sekolah diniyah dan 1986 berdiri Madrasah Tsanawiyah. Pendidikan tersebut berjalan secara mandiri, tidak ada pasokan dana dari pemerintah. Mulai 1992 diresmikan sebagai Yayasan. Tahun 2007 berdiri unit pendidikan formal Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Aliyah (MA). 

Ia berharap pesantrennya menjadi salah satu bagian dari kebangkitan ekonomi Nahdliyin di Sukabumi selatan suntuk kemudian menjadi motor penggerak perubahan. 

Pewarta: Amus Mustaqim
Editor: Abdullah Alawi