Anak Cucu Mama Ajengan Husen Ciheulang dan NU

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Putra-putri Mama Husen Ciheulang (Foto: Dok. Keluarga)
Putra-putri Mama Husen Ciheulang (Foto: Dok. Keluarga)

Pondok Pesantren Al-Husaeni Lebakbiru, Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung merupakan salah satu basis NU di Kabupaten Bandung melalui keturunan dan santri-santrinya. Tak sedikit pengurus NU dan banom-banomnya berasal dari pesantren ini, baik di tingkat cabang, wilayah, bahkan ada yang pernah sampai di tingkat pusat.

Pesantren tersebut tak lepas dari Mama Ajengan KH Husen (selanjutnya Mama Husen). Nama pesantren tersebut dinisbatkan kepada namanya.

Pada masa hidupnya, Mama Husen adalah seorang yang nonkooperatif dengan penjajah Belanda. Hal-hal yang berbau dengan penjajahan ia tegas menolaknya. Begitu pula ketika anak sulungnya membawa organisasi NU. Ia sempat menolak dan beradu argumen dengan anaknya hingga sebulan kemudian menerimanya. 

Mama Husen memulai aktivitas dakwah melalui pesantren pada tahun 1912 M. Kemungkinan besar aktivitas pengajian bisa jauh lebih awal dari tahun itu jika dikaitkan dengan usia anak pertamanya KH Abdullah Cicukang yang menuntut ilmu ke Pesantren Tebuireng pada tahun 1920 M.  

Menurut pihak keluarga, KH Umar Faruk, Mama Husen berasal dari Garut. Menurut riwayat para leluhurnya yang sampai pada generasi hari ini, Mama Husen berasal dari daerah Suci dan merupakan keturunan Syekh Jafar Shidiq Cibiuk. Ada pula yang mengaitkannya sebagai keturunan Syekh Godog atau Sunan Rohmat. Bahkan ada yang menyebut Mama Husen merupakan keturunan dari kedua tokoh tersebut.  

Menurut KH Umar Faruk, Mama Husen kemudian pergi dari kampung halamannya. Namun tidak diketahui penyebab kepergiannya itu. “Kemungkinan besar ya dalam perjalanan dakwah dan mengembangkan Islam,” kata Umar Faruk saat ditemui di kompleks pesantren itu, Senin (29/9).  

Kemudian tiba di Ciheulang, sekitar tahun 1912. Lalu menikahi gadis setempat bernama Hj. Rukiah putri Ibu Aja, Putri Mbah Kanom Astamanggala, putra Dalem Bandung. 

Sebagaimana disebutkan di atas, pihak keluarga menyebut KH Abdullah Cicukang menimba ilmu ke Tebuireng pada tahun 1920 M. Rasanya agak mustahil KH Abdullah Cicukang dalam usia 8 tahun pergi ke Tebuireng. Lagi pula, ia tidak mungkin lahir di tahun yang sama persis dengan pernikahan orang tuanya. Jadi, minimal ia berusia 7 tahun saat pergi ke Tebuireng. 

Lalu, pihak keluarga juga menyebut pada tahun 1926, KH Abdullah Cicukang (berarti pada usia 13 tahun) masih berada di Tebuireng, sempat menyaksikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengajak para santrinya untuk berdoa untuk kelancaran sebuah organisasi yang baru didirikannya, Nahdlatul Ulama. 

Dengan demikian, mengingat usia KH Abdullah Cicukang, sepertinya Mama Husen datang ke Ciheulang lebih awal dari tahun 1912. Dan KH Abdullah Cicukang lahir lebih tua dari tahun itu. 

Pernikahan Mama Husen dan Hj. Rukiah melahirkan delapan putra putri:  
1. KH Abdullah (wafat tahun1976). KH Abdullah ini sebagai disebutkan di bagian awal merupakan anak sulung. Setelah menimba ilmu di Tebuireng ia pulang ke kampung halamannya, kemudian menikah dengan Hj. Nenden Siti Zubaedah di Cicukang.

KH Abdullah kemudian tinggal di Cicukang yang saat ini letaknya di Kota Bandung sehingga ia dikenal KH Abdullah Cicukang. Nama KH Abdullah Cicukang ini terdokumentasikan dalam Laporan dari Muktamar NU Ke-4 sampai Ke-10 yang tersimpan di Perpustakaan PBNU. Ia disebut sebagai salah seorang yang berjasa dalam penyelenggaraan muktamar NU ketujuh yang berlangsung di Bandung pada tahun 1932.

Pernikahan KH Abdullah Cicukang dan Hj. Nenden tidak mempunyai keturunan. Keduanya kemudian hijrah ke Arab Saudi. KH Abdullah Cicukang meninggal di sana, sementara sang istri kembali ke tanah air. Meskipun tak mempunya keturunan, KH Abdullah Cicukang berhasil membawa NU ke keluarga dan masayarakat Bandung.   
 
2. KH Abdur Rosyad (Mama Osad) (wafat tahun 1935). Ia menikah dengan perempuan asal Batununggal, Kota Bandung. Ia kemudian tinggal dan menyebarkan ilmu agama di daerah istrinya.   

3. Shofiyah, meninggal muda. Sempat menikah, punya anak dan meninggal muda pula. Jadi tidak ada keturunan darinya. 

4. KH Qosim (wafat sekitar tahu1997-1998-an). Ia pernah aktif di NU pernah jadi bendahara ranting memiliki sembilan putra-putri. Dari keturunannya lahir beberapa aktivis NU misalnya di Muslimat yaitu Hj. Iyam Maryam.

5. Hajah Siti Latifah (w.1980-an). Ia merupakan ustadzah dan sempat menjadi penerus pesantren bersama Mama Haji Qasim. Ia mengasuh santri putri dan pengajian ibu-ibu. Darinya lahir 8 keturunan yang kemudian melahirkan Ketua PCNU Kabupaten Bandung hari ini KH Asep Jamaludin, Nia Qolbu pernah menjabat Ketua PC.Fatayat NU Kabupaten Bandung dua periode yaitu 2000-2008 dan 2008-2014, dan menjabat Wakil Ketua III PW Fatayat NU Jawa Barat 2 periode yaitu tahun 2013-2019 dan 2020-2025; Dadang Munawar, Iyuy Masruroh (Muslimat), Ahmad Husen Jali (pengurus PWNU Jawa Barat), dan KH Hilmi Ashiddiqi Al'aroqi merpakan salah seorang perintis PCINU Sudan dan pernah mengetuainya tahun 2005.

6. Kemudian KH E.Z. Muttaqin (wafat 1990). Ia dikenal dengan nama Ajengan Engking, tokoh NU legendaris di Bandung pada zamannya. Terkait dia perlu tulisan panjang dan penelitian lebih khusus mengingat jasa dan sepak terjangnya untuk NU. Ia memiliki 10 putra-putri aktif memperkuat NU di tingkatan masing-masing, di antaranya KH Ilyas Muttaqin, Hajah Lalah, Hajah Atut, Eneng Ida Faridatul Musriyah, dan lain-lain.   

7. KH Imam Sayfi’i ( wafat 2008). Ia dikenal sebagai kiai yang dekat dengan pemuda dan masyarakat. Ia memiliki 9 putra-putri yang juga aktif di NU. 

8. KH Ma’mun Sarbini (wafat 2005). Sebagaimana keturunan kakak-kakaknya, bungsu Mama Husen ini juga melahirkan pengurus NU dan banom-banomnya di berbagai tingkatan, misalnya KH Rahmat Khoirul Khuluq dan KH Umar Faruk. KH Ma’mun Sarbini memiliki 7 putra-putri dari istri pertama yang meninggal. Kemudia ia menikah lagi. Dari pernikahan kedua ini, ia mendapat 5 putra-putri. 

Menurut KH Umar Faruk, tak ada wasiat dan perintah khusus dari leluhurnya untuk aktif di NU dan banom-banomnya. Tapi NU menjadi sesuatu yang alamiah berada di alam bawah sadar anak buyut Mama Husen. Mereka seperti otomatis mengikuti jejak para leluhurnya. 

Memang, kata dia, tidak seluruh anak buyut Mama Husen menjadi aktivis atau pengurus NU, tapi tak ada yang aktif di organisasi yang memusuhi NU. Paling minimal adalah menjadi anggota NU dan banom-banomnya.  

“Anak cucu Mama Husen melaksanakan kutur-kultur ke-NUan kemudian berproses di jamiyah dan banomnya. Secara alamiah. Secara alamiah saja, melalui pendidikan, yang dibangun sejak awal, sejak lahir. Jadi, di sini bukan NU dadakan, tapi NU pituin di sini,” kata lulusan pesantren Cipasung ini. 

Penulis: Abdullah Alawi