Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Al-Quthuf al-Daniyah: Kitab Syarah atas Fatwa-Fatwa Sayyid ‘Alwi al-Maliki Karya KH Ingi Badruzzaman Pasirterong

Al-Quthuf al-Daniyah: Kitab Syarah atas Fatwa-Fatwa Sayyid ‘Alwi al-Maliki Karya KH Ingi Badruzzaman Pasirterong
Kulit muka al-Quthûf al-Dâniyah (koleksi
Kulit muka al-Quthûf al-Dâniyah (koleksi

Setakat berikut ini adalah ulasan atas kitab berjudul “al-Quthûf al-Dâniyah ‘alâ Syarh Fatwâ Shâhib al-Fadhîlah” karya seorang ulama Tatar Sunda dari Pasirterong, Cianjur (Jawa Barat), yaitu KH. Ingi Badruzzaman (1937-2015).

Kitab “al-Quthûf al-Dâniyah” ditulis dalam bahasa Arab dan berisi penjelasan (syarah) serta catatan keterangan (ta’lîqât) atas himpunan risalah fatwa seorang ulama besar Makkah yang juga mahaguru ulama Nusantara pada abad ke-20 M, yaitu Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî al-Makkî (1328-1391 H/1910-1971 M).

Saya menjumpai naskah kitab ini di rumah Ajengan Ahmad Muhibbuddin Mu’thi, keluarga Pesantren Nurul Fata di Cikondang, Sukabumi (Jawa Barat), yang banyak memiliki koleksi kitab-kitab karya ulama Tatar Sunda. Tertulis pada halaman sampul kitab:

القطوف الدانية / على شرح فتوى صاحب الفضيلة العالم العلامة / الجليل السيد علوي بن السيد عباس المالكي المكي / مع تعليقاته لأبي عبد الرحمن بدر الزمان بن / قشاشي الباسرتراني الشنجوري نفعنا الله بها / آمين

(“al-Quthûf al-Dâniyah Syarh ‘alâ Fatwâ Shâhib al-Fadhîlah” seorang yang alim allamah, seorang yang agung Sayyid ‘Alwî b. Sayyid ‘Abbâs al-Mâlikî al-Makkî beserta catatan penjelasan yang ditulis oleh Abû ‘Abdirrahmân [Ingi] Badruzzamân al-Bâsirtirânî [Pasirterong] al-Syanjûrî [Cianjur] semoga Allah memberikan kita semua kemanfaatan ilmu. Amin)

Dalam kitab “al-Quthûf al-Dâniyah” ini, terdapat kata pengantar yang ditulis oleh KH. Abdul Qadir Razi, yang disebut sebagai “mudarris ihyâ ‘ulûm al-dîn wa al-tafsîr” (guru pengajar kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn karya Imam Ghazzali dan juga kitab Tafsir). Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Qadir Razi menulis:

وبعد. فقد تلقيت ثمرة من ثمار شجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها في السماء غرسها في لب الفاضل أبي عبد الرحمن بدر الزمان بن قشاشي أجلاء شيوخه أعيان العلماء سماها "القطوف الدانية" على شرح فتوى صاحب الفضيلة العالم العلامة الجليل السيد علوي بن السيد عباس المالكي المكي

(Wa ba’du. Aku telah membaca sebuah karya yang seumpama buah yang berasal dari pohon yang elok, akarnya kokoh dan dahannya menjulang tinggi, yang ditanam di sosok seorang pemilik keutamaan yaitu Kiyai Abu Abdul Rahman [Ingi] Badruzzaman b. Kosasih, oleh gurunya yang paling agung, tokoh ulama pada zamannya. Karya tersebut diberi judul “al-Quthûf al-Dâniyah Syarah ‘alâ Fatwâ Shâhib al-Fadhîlah”, yaitu penjelasan atas fatwa-fatwa seorang yang alim allamah, yang agung, Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî al-Makkî).

Dalam titimangsa, didapati keterangan jika karya ini diselesaikan penulisannya di Cianjur pada 27 Rajab tahun 1404 Hijri (bertepatan 29 April 1984 Masehi). Karya ini kemudian dicetak dalam format cetak “stensilan” oleh Percetakan al-Ishlah di Sindangbarang, Cianjur, pada tahun 1405 Hijri (1985 Masehi). Dalam versi cetakan tersebut, jumlah keseluruhan halaman kitab adalah 32 halaman.

* * * * *

Dalam kitab “al-Quthûf al-Dâniyah”, termuat beberapa fatwa yang dirilis oleh Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî al-Makkî atas beberapa permasalahan keagamaan kontemporer (nawâzil ‘ashriyyah). Sayyid ‘Abbâs menjelaskan duduk permasalahan masalah-masalah tersebut serta status hukumnya secara yurisprudensi Islam (fikih). 

Selain itu, kitab “al-Quthûf al-Dâniyah” juga memuat pengantar kajian dari Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî tentang pentingnya kapasitas keilmuan seseorang ketika hendak berfatwa dan mengkaji masalah-masalah keagamaan. Beliau juga menyerukan pentingnya mengikuti para ulama bagi orang-orang awam, serta keharusan mereka bertanya dan ber-istiftâ (meminta penjelasan fatwa) kepada para ulama yang memiliki kapasitas keilmuan. 

Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî juga memperingatkan dengan cukup keras agar senantiasa berhati-hati dalam berfatwa dan berpendapat, utamanya bagi kalangan awam. Disebutkannya bahwa salah satu bencana terbesar bagi umat Muslim dewasa ini adalah ketika munculnya sekelompok orang yang awam dan tidak memilik kapasitas keilmuan Islam tetapi dengan sembrono dan berani mengeluarkan pendapat dan fatwanya atas masalah-masalah keagamaan kontemporer tanpa dilandasi oleh latar belakang keilmuan yang mumpuni. 

Beliau menulis:

لما كانت الحوادث البشرية لا تقف على حد احتيج في تحريجها على أصولها الى معرفة الأدلة وتحقيق مسالك العلة وذلك بالتفقه في الدين وسؤال أهل الذكر العارفين وإنما يسأل من لم يعلم

(Ketika masalah-masalah kemanusiaan dan keagamaan senantiasa muncul tiada henti, maka diperlukan untuk mencari penyelesaian hukumnya dengan menyarikannya dari pokok-pokok teks rujukan agama agar diketahui dalil-dalilnya, juga diketahui akar penyebab illat masalahnya. Hal ini melalui proses “tafaqquh fî al-dîn”, mempelajari ilmu-ilmu agama Islam secara matang dan mapan, serta dengan bertanya kepada para ahli agama yang mumpuni. Dan hendaklah orang-orang awam yang tidak mengerti agama ini bertanya kepada para ulama ahli agama).

* * * * *

Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî tercatat sebagai sosok agung ahli hukum Islam. Meski beliau terafiliasi dengan madzhab Maliki, tetapi penguasaan beliau akan fikih madzhab Syafi’i sangat mumpuni. Hal ini tampak pada fatwa-fawa beliau yang terhimpun dalam kitab “Majmû’ Rasâ’il wa Fatâwâ”, di mana ketika beliau menjawab persoalan-persoalan keagamaan yang berasal dari para penanya yang bermadzhab Syafi’i, maka beliau akan menjawabnya dalam perspektif hukum madzhab Syafi’i. 

Keluasan ilmu hukum Islam Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî juga tampak dalam karyanya yang lain, yaitu “Ibânah al-Ahkâm” yang merupakan ulasan dan penjelasan (syarah) atas kitab hadits hukum “Bulûgh al-Marâm” yang fenomenal, karya al-Imâm Ibn Hajar al-‘Asqalânî (w. 1449).

Selain itu, Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî juga memiliki kedekatan dan jaringan keilmuan yang sangat erat dengan para ulama Nusantara, di mana beliau memiliki banyak jumlah murid yang berasal dari wilayah kepulauan tersebut. Di antara murid beliau adalah KH. Mahrus Ali Lirboyo, Syaikh Yasin Padang, KH. Maimoen Zubair Rembang, dan lain-lain.

Putra Sayyid ‘Alwî b. ‘Abbâs al-Mâlikî, yaitu Sayyid Muhammad b. ‘Alwî al-Mâlikî (1944-2004), juga masih terus meneruskan hubungan dan jaringan keilmuan dengan para ulama besar Nusantara. Ribuan murid Sayyid Muhammad al-Mâlikî di Nusantara telah berasal dari berbagai generasi dan terhimpun dalam perkumpulan “al-Shafwah al-Mâlikiyyah” yang diketuai oleh KH. Ihya Ulumuddin Pujon, Malang (Jawa Timur). 

Di antara murid dari Sayyid Muhamad b. ‘Alwî al-Mâlikî di Tatar Sunda adalah KH. Ingi Badruzzaman Pasirterong Cianjur, sosok yang menulis kitab “al-Quthûf al-Dâniyyah” yang kita diskusikan di muka ini.

KH Ingi Badruzzaman pernah bermukim di Makkah selama beberapa tahun lamanya pada dekade 1980-an. Di Makkah, beliau juga tercatat pernah belajar kepada Syaikh Yasin Padang, ulama besar hadits dunia Islam yang berkududukan di Makkah dan berasal dari Nusantara. Syaikh Yasin Padang juga tercatat memberikan “ijâzah” (kredensi) periwayatan atas kitab himpunan sanad ulama Nusantara yang berjudul “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânîd”, tertanggal 7 Dzulqaedah 1402 Hijri. Di sana, Syaikh Yasin Padang menulis untuk KH. Ingi Badruzzaman:

الحمد لله وحده. والصلاة والسلام على من لا نبي بعده. وعلى آله وأصحابه. وبعد. فقد أجزت بما في هذه الرسالة المسماة بالعقد الفريد من جواهر الأسانيد ويأتي أخانا في الله الشيخ بدر الزمان بن قشاشي شنجوري. وأوصي نفسي وإياه بالتقوى في السر والنجوى. وأرجوه أن لا ينساني من صالح دعواته في خلواته وجلواته. قاله وكتبه بيده خويدم الحديث والاسناد. راجي عفو ربه علم الدين أبو الفيض محمد ياسين بن عيسى الفاداني المكي

* * * * *

Pesantren Pasirterong (al-Alawiyyin) terhitung sebagai salah satu pesantren yang tua di Cianjur. Pesantren ini telah eksis berdiri sejak 150 tahun yang lalu. Uniknya, estafet kepemimpinan pesantren ini berlangsung secara turun temurun melalui jalur menantu. Pesantren ini didirikan oleh Kiyai Alawi (yang juga mertua dari Kiyai Sa’id al-Kabir, ayah dari Kiyai Syathibi Gentur), lalu dilanjutkan kepemimpinannya oleh Kiyai Abdurrahman (menantu Kiyai Alawi), lalu dilanjutkan lagi kepemimpinannya oleh Kiyai Kosasih (menantu Kiyai Abdurrahman), lalu dilanjutkan lagi kepemimpinannya oleh Kiyai Ingi Badruzzaman (putra Kiyai Kosasih). Saat ini, setelah wafatnya KH. Ingi Badruzzaman pada tahun 2015 yang lalu, estafet kepemimpinan Pesantren al-Alawiyyin Pasirterong dilanjutkan oleh generasi putra-putra beliau.

Saya sendiri pernah menziarahi Pesantren al-Alawiyyin dan makam para pengasuhnya di Pasirterong pada bulan Juli tahun 2020 silam. KH. Ingi Badruzzaman juga tercatat sebagai sosok ulama yang prolifik, di mana beliau banyak menulis sejumlah karya dalam bahasa Arab dan juga Sunda Pegon. Wallahu A’lam
 

Buitenzorg, Akhir Ramadhan 1442 H/Mei 2021 M

Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban