Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Al-Qur’an Antarkan Hj. Neneng Juju Jubaedah ke Berbagai Kota dan Negara

Al-Qur’an Antarkan Hj. Neneng Juju Jubaedah ke Berbagai Kota dan Negara
Hj. Neneng Juju Jubaedah Foto: (NU Online Jabar/Nelly Nurul Azizah)
Hj. Neneng Juju Jubaedah Foto: (NU Online Jabar/Nelly Nurul Azizah)

Bagi sebagian orang, termasuk saya, menghafal adalah pekerjaan yang menjenuhkan, bahkan menyebalkan. Apalagi hafalan itu harus dijaga secara terus-menerus, sepanjang waktu, bahkan sepanjang hayat. Semakin memusingkan kepala, hafalan itu bukan bahasa sehari-hari saya dan jumlahnya tidak sedikit. Dan yang paling berat adalah hafalan itu tak boleh kurang satu huruf, bahkan satu titik pun. Dan, tak boleh pula hafalan itu meleset bacaannya. 

Begitulah pikiran banyak orang, khususnya, saya ketika membayangkan  menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan. Bagi saya menghafal Al-Qur’an bukanlah pekerjaan main-main. 

Saya membuka dalam sebuah situs, Al-Qur'an terdiri atas 114 surah, 30 juz dan 6236 ayat menurut riwayat Hafsh, 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur, atau 6214 ayat menurut riwayat Warsy.

Sebanyak itulah para para penghafal Al-Qur’an menjaga dan merawat kalimat dalam pikirannya. Betapa membosankannya. Namun, ternyata tidak demikian bagi Hj. Neneng Juju Jubaedah. Baginya, menghafal dan kemudian menjaga hafalan menjadi suatu rutinitas keseharian. Sepanjang hidupnya.  

Terinspirasi dari Keluarga 
Hj. Juju lahir di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, 1977, anak ke-6 dari 8 bersaudara dari pasangan KH Ahmad Iing (Cimaung Banjaran E. Abdurrohman) dan Hj. Oom Rohmah (putri dari pendiri Pondok Pesantren Sinapeul KH Mama Amin Sirodj).

Dari pasangan itu lahir 8 putra dan putri, secara berurutan adalah, pertama, KH Muslim Aziz (salah seorang ustadz di Pondok Pesantren Al-Istiqomah), kedua,  KH Masluh Sakandari (pengasuh Pondok Pesantren Badrul Ulum Sinapeul) Assakandari, ketiga, KH Didin Saefudin (Pengasuh Pondok Pesantren Baiturrosyad), keempat, Hj. Neng Dewi Hasanah (Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Assyiroji dan Sekretaris Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Bandung), kelima, Iis Sholihah (guru tahfidz Al-Qur’an), keenam, Hj. Neneng Juju Jubaedah, ketujuh, H. Asep Ismail (di Pondok Pesantren Wadil Quro), Cecep Wifki Fadlan (guru mengaji di Pondok Pesantren Baiturrosyad). 

Pendidikan formal yang ditempuh Hj. Neng Juju adalah Madrasah Ibtidaiyah Baitul Arqom 1985-1990, Madrasah Tsnawiyah Baitul Arqom 1991-1993, Madrasah Aliyah Baitul Arqom 1994-1996,  mahasiswi Universitas Islam Nusantara (Uninus) 2017 sampai sekarang semester 7 sedang menyusun skripsi.

Sementara pendidikan pesantren dijalaninya di Pondok Pesantren Badrul Ulum Sinapeul 1997-2000 yang diasuh kakaknya sendiri, kemudian di Pondok Pesantren Nurul Iman Tasikmalaya (2001) dengan fokus menghafal Al-Qur’an. Di pesantren itu, ia bertujuan muraja’ah atau mengulang, melancarkan, dan menyempurnakan hafalan yang sudah dimulainya sejak1998 dan khatam pada 2000. Jadi, Neng Juju mampu menghafal Al-Qur’an bil-ghaib selama 24 bulan. 

Kemudian selepas menyempurnakan hafalannya di Nurul Iman, ia kembali lagi ke kediamannya, di Pondok Pesantren Baiturrosyad pada tahun 2002. Pada tahun yang sama ia menyempatkan diri untuk ikut pasaran di Pondok Pesantren Buni Kasih Cianjur.

Menurut Neng Juju, alasan kuat kenapa memutuskan menghafalkan Al-Qur’an salah satunya ingin selalu dekat dengan kalam Allah yang termotivasi dengan suatu hadits yang menyebutkan, Iqraul qur’an fainnahu ya’tii yaumal qiyaamati syafii’an li-ash-haabih(i)”, artinya: “Bacalah Al-Qur’an, karena Al-Qur’an itu pada hari kiamat akan datang dengan mensyafa’ati (memberikan pertolongan)”.

Hadits lain, Man qara’a harfan min kitabillahi falahu bihi hasanah, wal hasanatubi asyri amtsaliha, la aqulu alif lam mim harfun, wala kin alifun harfun, walaamun harfun, wamiimun harfun. Artinya: Barangsiapa yang membaca 1 huruf saja dari kitab Allah (Al-Qur’an) maka baginya 1 kebajikan, dan 1 kebajikan itu akan dilipatgandakan menjadi 10 kebajikan, aku tidak berkata alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi Alif itu satu huruf, lam itu satu huruf, dan mim itu satu huruf. 

“Selain dari itu, saya terinspirasi dari bapak saya yang selalu dawam dalam membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya tiap dua minggu sekali,” katanya. 

Ia juga mengaku terinspirasi dari kakak-kakaknya, yaitu KH Muslim Aziz yang kuliah di Mesir sampai mendapatkan gelar magister dan KH Didin Saefudin yang memimpin pesantren Al-Qur’an Baiturrosyad.

“Juga Teh Iis Sholihah sebagai guru hafidz, juga adik saya H. Asep Ismail sebagai pimpinan Pondok Pesantren Wadil Quro. Terinspirasi juga bahasa Arabnya dari kakak saya, KH Masluh Sakandari sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Sinapeul,” lanjutnya.

Inspirasi dan teladan dari keluarganya, ia memantapkan diri menghafal Al-Qur’an secara fokus dan intensif sejak 1998. Tiap hari ia mencicil hafalan sebanyak 2 lembar. Di tengah aktivitasnya yang lain, ia memanfaatkan semaksimal mungkin waktu luangnya. Sementara, ketika ia sudah mengkhatamkan Al-Qur’an secara keseluruhan, ia melakukan muraja’ah sehari 1 juz. 

“Kalau ada waktu luang bisa sampai 2 juz,” katanya. “Sebagai perempuan, pastinya mengalami siklus haid, akan tetapi muraja'ah tetap dilakukan seperti biasa,” katanya. 

Hal ini dijelaskan dalam kitab Safinatun Naja, Ianatut Thalibin dan Fathul Mu’in bahwa perempuan haid masih tetap diperbolehkan muraja'ah untuk menjaga hafalannya.

MTQ ke Berbagai Kota dan Negara 
Berbekal kemampuannya menghafal Al-Qur’an, Hj. Neneng Juju Jubaedah mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Banten tahun 2006. Pada ajang itu, ia mendapatkan juara 1 dengan hadiah naik haji tahun 2008 dan uang saku.

Kemudian, ia mengikuti MTQ di Provinsi DKI Jakarta tahun 2009. Ia meraih  juara 2 pada cabang tafsir Al-Qur’an bahasa Arab. Prestasi ini membuat ia dikirim ke Brunei Darussalam untuk mengikuti MTQ se-Asia Tenggara dengan peserta 4 negara, yaitu yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura. 

“Alhamdulillah Indonesia juara 3, sedangkan juara 1 dimenangkan Malaysia, yang kedua Brunei dan keempat 4 Singapura,” katanya.  

Dari kiri ke kanan: Pembimbing dari Indonesia (Hj. Romlah), Neng Juju, peserta dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam

Selama berada di Brunei selama 7 hari, Neng Juju, sempat diajak jalan-jalan ke tempat bersejarah, termasuk ke Masjid Sultan Hasanul Bolqiah, Raja Brunei Darussalam. Juga ke museum dan ke pesantren tahfidz terbesar di Brunei. 

Pada 2010, Neng Juju mengikuti MTQ cabang tafsir berbahasa Arab di Provinsi Jawa Barat yang berlangsung di Depok. Saat itu, ia meraih juara 1 dan mendapatkan uang saku. Karena prestasi itu, ia berhak mewakili Jawa Barat di tingkat nasional yang berlangsung di Bengkulu, tapi ia belum meraih juara.

Pada 2011, Neng Juju mengikuti MTQ di Provinsi Riau pada cabang tafsir Al-Qur’an berbahasa Arab. Di provinsi ini, ia meraih juara 1 dan mendapat hadiah umrah pada 2011 serta mendapatkan uang saku.

"Ikut MTQ ke berbagai kota bukan untuk mencari materi, tapi hanya ingin melancarkan hafalan dan yang paling utama untuk mensyiarkan agama Allah, li i'lai kalimatillah. Adapun dapat rezeki itu adalah rezeki min haitsu la yahtasib, rezeki yang tak disangka-sangka, bukan tujuan utama," tegasnya. "Wa man yattaqillaaha yaj'al lahuu makhrajaa, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, Wa man yatawakkal 'alallaahi fahuwa hasbuhuu, Innallaaha baalighu amrihii,Qad ja'alallaahu likulli syai in qadraa," tambahnya. 

Jadi Dewan Hakim dan Pembina Tahfidz  
Saat ini, Neng Juju merupakan salah seorang Dewan Hakim Tahfidz Al-Qur’an di Kabupaten Bandung dan sebagai pembina Tahfidz Al-Qur’an Kabupaten Bandung dari tahun 2013 sampai sekarang.

Hasil binaannya, pada 3-12 September 2020, peserta Kabupaten Bandung mengikuti MTQ tingkat Provinsi Jawa Barat yang berlangsung di Subang. 

“Saya dari Kabupaten Bandung kebagian membina cabang tahfidz di 20 juz putra dan putri. Alhamdulillah putri juara 1 dan putra juara harapan 1,” kata

Pengurus Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Bandung sebagai  Koordinator IHFI (Ikatan Hafidzah Fatayat) saat ini. 

Melawan Bosan dalam Jaga Hafalan
Para penghafal Al-Qur’an adalah manusia juga. Mereka tentu memiliki rasa bosan. Terkait sifat ini tentu saja hal yang akan melanda. Namun, para penghafal Al-Qur’an dengan sekuat tenaga melawannya, bukan membiarkannya berlarut-larut, apalagi sampai menggerogoti hafalannya.

“Cara melawan bosen saya cari tempat yang enak atau mendukung untuk muraja’ah. Tidak hanya di kamar,” katanya.  

Dengan cara begitu, bosan bisa dikalahkan. Yang, ada, justru merasa hampa jika tidak muraja’ah dalam sehari saja.

“Hampa jika tidak muraja’ah dalam sehari,” kata Neng Juju.

Neng Juju mengaku, sebetulnya ia pernah menghafal di luar kepala beberapa  kitab kuning di antara Imrity, Alfiyah, Safinah, Yaqulu (Nadham Al-Maqshud). Namun, kitab-kitab tidak di-muraja’ah.

“Berbeda dengan Al-Qur’an, merasa dosa, kalau tidak muraja’ah. Ada keterangan kalau Al-Qur’an lupa itu dosa,” katanya.

Lebih lanjut, menurut Neng Juju ayat-ayat Al-Qur’an sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Ia selalu lebih tenang ketika membacanya. Hal ini persis sebagaimana janji dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 28.

“Saat dalam hidup tersulit saya, Al-Qur’an menjadi penguat hidup saya. Justru semakin dekat dan kuat untuk muraja’ah-nya. Selalu husnudzan saja kepada Allah karena selalu ada hikmah di balik ujian. Rabbana ma khlaqta hadza bathila dan li kulli syai'in hikmatun,” jelasnya.

“Bagi para hafidz hafidzah agar selalu menjaga hafalan Al-Qur’an dan mengagungkan Al-Qur’an denga selalu muraja’ah dengan pengamalan dan men-tadaburi isi Al-Qur’an. Muliakanlah dirimu bersama Al-Qur'an...,” ajaknya.

Penulis: Nelly Nurul Azizah
Editor: Abdullah Alawi