Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Muhammad Zakiyuddin Siroj, Mahasiswa NU di IPB yang Peduli Pendidikan Anak-anak

Muhammad Zakiyuddin Siroj, Mahasiswa NU di IPB yang Peduli Pendidikan Anak-anak
Muhammad Zakiyuddin Siroj, anak muda NU yang yang studi di IPB (Foto: dokumentasi pribadi)
Muhammad Zakiyuddin Siroj, anak muda NU yang yang studi di IPB (Foto: dokumentasi pribadi)

Pendidikan menurut prespektif Nahdlatul Ulama bukan sekedar formalitas untuk memenuhi hak dan kewajiban guru terhadap murid, melainkan sebagai kunci untuk membuka peradaban baru. Nahdlatul Ulama  merintis gerakan pendidikan bahkan sebelum organisasi ini resmi didirikan. 

Selain pesantren yang usianya berabad-abad lalu, cikal bakal pendidikan Nahdlatul Ulama bisa dirujuk dari Nahdlatul Wathan, organisasi penyelenggara pendidikan yang lahir sebagai produk pemikiran yang dihasilkan oleh forum diskusi yang disebut Tashwirul Afkar, yang dipimpin KH Abdul Wahab Hasbullah. Organisasi ini mempunyai tujuan untuk memperluas dan mempertinggi mutu pendidikan sekolah atau madrasah yang teratur. 

Dalam mengusahakan terciptanya pendidikan yang baik, maka Nahdlatul Ulama memandang perlunya proses pendidikan yang terencana, teratur dan terukur. Sekolah atau madrasah menjadi salah satu program permanen Nahdlatul Ulama, di samping jalur nonformal seperti pesantren.

Latar belakang tersebut yang mendorong Muhammad Zakiyuddin Siroj untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak yang hidup di sekitaran kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Sebagai seorang Nahdliyin, mahasiswa IPB ini merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu dan yatim di lingkar kampus IPB. 

Tercatat sampai hari ini setidaknya sudah ada 3 tempat pengabdian yang dikelolanya. Salah satunya adalah Nahdlatul Athfal (NA).

Dia menceritakan bagaimana memutuskan untuk terjun dan mengabdikan diri pada pendidikan. Itu berawal dari seniornya di KMNU IPB, yakni Jose, mahasiswa IPB sekaligus ketua divisi eksternal KMNU IPB periode 2018/2019. 

“Pada mulanya saya tidak begitu tertarik pada bidang pengabdian, apalagi di sektor pendidikan. Tapi setelah saya diajak mas Jose dan mencoba secara langsung, ternyata berbagi ilmu itu menyenangkan. Kita harus belajar ikhlas, sabar dan telaten saat mengajari murid-murid yang notabenenya masih anak SD dan yang terpenting adalah dengan kita memfasilitasi pendidikan anak-anak ini hakikatnya kita telah menyiapkan tunas-tunas muda yang akan memimpin Indonesia di masa depan,” ungkap Zaky.

Selain itu, dia merasa pengabdian seperti ini adalah tanggung jawab moral yang harus tuntaskannya. 

“Sebagai mahasiswa kan kita emang punya tugas dan kewajiban itu, jadi apa yang saya lakukan sekarang itu ya sudah sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi. Untuk waktu dekat saya akan melakukan pengkaderan kepada adik tingkat IPB agar bisa meneruskan pengabdian ini, ya ada saatnya saya harus pensiun dan saya akan mewariskan ini sebagaimana mas Jose melakukannya,” tambahnya.

Mahasiswa asal Trenggalek ini berpesan, sebagai kader muda NU tidak boleh tutup mata atas pendidikan yang ada di Indonesia, tidak peduli apa pun profesinya, sebagai pemuda kita harus memperjuangkan pendidikan terutama bagi kalangan yang kurang mampu. 

“Bagi para Nahdliyin yang sedang menjadi mahasiswa di IPB, ayo monggo bergabung dengan saya di KMNU karena kita punya tanggung jawab moral terhadap pendidikan yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Penulis: Muhammad Afiffuddin A.
Editor: Abdullah Alawi