Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Lingkar Baca Swara Rahima Tasikmalaya Perkuat Pemahaman Kekerasan Berbasis Gender

Lingkar Baca Swara Rahima Tasikmalaya Perkuat Pemahaman Kekerasan Berbasis Gender
Aktivis IPPNU dan Kopri PMII mengikuti diskusi Lingkar Baca Swara Rahima (Foto: NU Online Jabar/Anbiyani)
Aktivis IPPNU dan Kopri PMII mengikuti diskusi Lingkar Baca Swara Rahima (Foto: NU Online Jabar/Anbiyani)

Tasikmalaya, NU Online Jabar
Lingkar Baca Swara Rahima Tasikmalaya rutin membahas isu-isu perempuan tiap 2 minggu sekali dengan melibatkan aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Tasikmalaya dan Korp Prgerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri Kabupaten Tasikmalaya. 

Pada diskusi kali ini, Lingkar Baca Swara Rahima Tasikmalaya mengangkat tema  Perlibatan Laki-laki dalam Mencegah Kekerasan Berbasis Gender berlangsung yang berlangsung di Rumah Kreatif Pelajar Tasikmalaya, Jumat (27/11). Narasumber diskusi itu adalah Nia Ramdaniati, salah seorang pengurus Rahima Tasikmalaya.

Nia mengatakan, diskusi ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman tentang kekerasan berbasis gender yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat baik disadari atau tidak, baik oleh pelaku dan korban kekerasan, termasuk kekerasan yang bersifat verbal. 

“Laki-laki dan perempuan harus mengetahui bahwa mencegah kekerasan berbasis gender ini adalah tugas bersama dan juga harus dimusnahkan menyangkut hak dasar kemanusiaan yang harus dijaga,” tegasnya.

Jika melihat kacamata sejarah dan agama Islam, kata dia, Rasulullah SAW tidak menyukai adanya kekerasan berbasis gender apalagi perempuan yang dijadikan korban. 

“Beliau selalu memuliakan kaum perempuan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hadits yang berkaitan pada perempuan,” tegasnya. 

Lebih lanjut Nia menjelaskan, sejak 25 November sampai 10 Desember 2020 diperingati sebagai Hari Anti-kekerasan terhadap Perempuan atau disebut juga kampanye 16 HAKTP (16 Days of activism againts gender violence). Rahima termasuk terut mengkampanyekan dan mendorong penghapusan kekerasan terhadap perempuan di dunia.

“Upaya yang harus dilakukan perempuan hari ini dalam mencegah kekerasan berbasis gender tersebut dengan mengetahui bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan dan menyadarinya,” katanya. 

Sehingga, sambungnya, para perempuan mampu menyuarakan untuk dirinya sendiri agar pelaku tidak melakukan kekerasan. Oleh karena itu perempuan harus bisa menyadarkan kaum laki-laki misalnya ayahnya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan gender yang dibangun oleh budaya patriarki. 

“Itu menyebabkan adanya kerugian dari salah satu pihak yang mana hal tersebut harus ditiadakan sebagaimana perjuangan dari Rasulullah SAW,” tegasnya. “Menyuarakan kesetaraan gender dan mencegah kekerasan berbasis gender bukan untuk menjatuhkan salah satu jenis kelamin. Namun, lebih kepada menempatkan posisi masing-masing dan saling menghargai satu sama lain yang sama-sama diciptakan oleh Allah SWT,” tutupnya.  

Pewarta: Anbiyani
Editor: Abdullah Alawi