Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Kiai Sama’un, Arungi Lautan dengan Kotak Kayu Demi Syiar Islam

Kiai Sama’un, Arungi Lautan dengan Kotak Kayu Demi Syiar Islam
Makam Kiai Sama'un
Makam Kiai Sama'un

Nama Kiai Sama’un tidak seterkenal Kiai Syakir, padahal catatan penulis yang dihimpun dari berbagai sumber, Kiai Syakir adalah putera Kiai Sama’un. Tokoh ulama yang satu ini adalah salah seorang penyebar agama Islam di bagian timur Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat sekitar abad XVI M.

Kala itu nama Kabupaten Indramayu belum lahir, yang ada Bumi Segandu, lantaran Indramayu pada masa itu hanya daerah kecil dan belum banyak dihuni manusia. Disebut-sebut, Kiai Sama’un ikut babad alas dengan harapan agar nyaman dihuni orang-orang yang datang dari manapun.   

Penulis kesulitan ketika harus mengungkap kisah perjuangan Kiai Sama’un dan asal-usulnya, karena minimnya literasi yang ada di Perpustakaan Daerah. Akhirnya data diperoleh dari berbagai sumber, termasuk situs Pondok Pesantren Darunnahwi untuk mengetahui apa dan bagaimana dengan Kiai Sama’un. 

Kisah Kiai Sama’un erat kaitannya dengan Pantai Dadap Indramayu, lantaran pantai itulah yang menjadi tempat pertama kali kedatangan Kiai Sama’un ke Bumi Segandu (sekarang Kabupaten Indramayu) yang tergolong unik dan sulit diukur dengan akal sehat, namun karena Allah SWT telah berkehendak, sehingga Kiai Sama’un berhasil mendarat di Pantai Dadap. Walaupun begitu terdampar di Pantia Dadap dalam keadaan pingsan, lantaran lamanya perjalanan terombang-ambing di lautan. 

Tergolong unik dan sulit diukur dengan nalar, karena Kiai Sama’un dari Gresik, Provinsi Jawa Timur mengarungi lautan dengan keganasan ombak Laut Jawa dikisahkan hanya dengan kotak kayu, bukan perahu atau kapal besar.

Berbekal niatnya yang kuat untuk mengembangkan agama Islam di kawasan pantai utara Pulau Jawa sekitar Abad XVI M, suatu hari Kiai Sama’un memutuskan untuk mengembara. Keputusan itu, setelah ia lama bermukim di Gresik, Provinsi Jawa Timur dan berhasil mendirikan beberapa pondok pesantren di beberapa tempat.

Keberhasilannya itu, sehingga Kiai Sama’un memperoleh gelar waliyullah. Penduduk Gresik memanggilnya Kiai Sama’un Waliyullah. Tapi dirinya belum merasa puas atas keberhasilannya itu. Masih bertekad untuk mengembangkan Agama Islam di Patai Utara, sebuah kawasan yang ia dengar masih berupa alas yang angker dan manusia yang bermukim masih sedikit.

Dalam misi pengembaraan untuk mengembangkan Agama Islam di kawasan Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa ia tidak sendiri, ada Kiai Solikhin dari Jawa Tengah, dan Kiai Abdullah Mimbar dari Demak, Jawa Tengah.

Namun Kiai Solikhin dan Kiai Abdullah Mimbar memutuskan untuk berkelana melalui jalan kaki. Sepanjang menjadi musyafir, keduanya sambil mengajarkan Agama Islam di tempat-tempat yang disinggahinya.

Karena keberangkatannya tidak bersama-sama, Kiai Sama’un memutuskan untuk menempuh perjalanan lewat laut. Namun karena tidak memiliki kapal maupun perahu, sehingga Kiai Sama’un memasukkan dirinya ke dalam kotak kayu jati, berlayar dengan menggunakan kekuatan doa dan terapung walaupun terombang-ambing dihantam keganasan ombak Laut Jawa selama sekitar berbulan-bulan.

Karena lamanya mengarungi lautan lepas, Kiai Sama’un pun pingsan di dalam kotak kayu tadi. Ironisnya, tujuan dirinya mendarat di daerah Pantura Utara pun tercapai. Ki Gede Dadap yang sedang berada di tepi pantai menemukan kotak kayu yang terhempas ombak laut. Bertapa terkejutnya Ki Gede Dadap setelah membuka kotak itu. Ki Gede Dadap meminta bantuan warga sekitar pantai agar membawa orang yang pinsan itu ke rumahnya. Dengan kekuatan doa pula, Ki Gede Dadap berhasil menyadarkan orang yang belum dikenalnya tersebut.

Ketika sadar, Ki Gede Dadap menanyakan nama, asal, dan tujuan orang yang baru siuman itu. Disitulah terjadi dialog, dan orang tersadar itu memperkenalkan dirinya dengan nama Kiai Sama’un dengan tujuan ikut menyebarkan Agama Islam di daerah Pantura. Sementara itu, Ki Gede Dadap juga memiliki misi agar warga sekitarnya menganut Agama Islam yang taat beribadah. Namun ia dalam beberapa lama menguji kemampuan dan kepribadian Kiai Sama’un yang rajin dan tekun mengajari ilmu agama kepada warga.

Ketokohan Ki Gede Dadap juga diakui warga sekitarnya, karena kepribadiannya yang baik dan banyak menolong orang, bahkan sangat loyal dengan menyedakohkan sebagian hartanya kepada warga yang membutuhkan. Karena merasa senang dengan kepribadian Kiai Sama’un, karena semakin hari selalu bertambah orang-orang yang menjadi santrinya, sehingga Ki Gede Dadap semakin tertarik untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih lagi ketika putrinya yang bernama Nyi Nurilah juga sangat perhatian terhadap Kiai Sama’un. Terjadilah pernikahan antara Kiai Sama’un dengan Nyi Nurilah.

Sejalan perputaran sang waktu, buah perkawinan mereka dikaruniai 5 orang anak yang kemudian menjadi tokoh-tokoh agama terkenal di Bumi Segandu Indramayu. Salah seorang diantaranya Kiai Syakir yang makamnya hingga kini dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.

Kelima orang anak pasangan Kiai Sama’un/Nyi Nurilah (putri Ki Gede Dadap), yakni : (1) Nyi Marju, dinikahi Kiai Marju seorang ulama putra Penghulu Batang Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. (2) Kiai Syakir, berkelana ke barat sampai menemukan kawasan yang dianggapnya cocok untuk didiami. Kawasan ini sunyi masih berupa alas, dan ada sebuah lintasan wot (jembatan bambu memanjang), dan oleh Kiai Syakir dibabad untuk dijadikan kawasan permukiman dan sekaligus mendirikan sebuah pesantren dengan nama Pesantren Wotgali. Sekarang bernama Pondok Pesantren Darun Nahwi masuk wilayah Desa Singajaya, Indramayu.
(3) Nyi Rajem, menikah dengan Kiai Rajem dari  Kedokan Bunder, Indramayu, bersama 5 orang putranya bermukim di Wotgali. (4) Kiai Safiudin berkeluarga dan bermukim di Kedokan Gali Karangampel, Indramayu (putra kembar dengan Nyi Rajem). (5) Kiai Abd. Karim bersama keluarga ikut membuka alas dan bermukim di Wotgali.

Adapun keterangan beberapa sumber, Kiai Sama’un juga disebut-sebut sebagai pengembara yang sangat sabar dan getol dalam menyebarkan Agama Islam di berbagai tempat. Kisah pengembaraannya dimulai sejak awal Abad XVI M dari Aceh hingga sampai ke Pulau Jawa. 

Lama tinggal di Gresik, Provinsi Jawa Timur hingga mendapat julukan Waliyullah oleh beberapa tokoh adat yang ada di sana. Begitulah yang kemudian melengkapi namanya menjadi Kiai Sama’un Waliyullah. 

Dalam Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2020, Kamis (22/10/2020), Tim Peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Indramayu yang dipimpin Ketua PCNU Kabupaten Indramayu, KH Juhadi Muhammad melakukan safari ziarah ke sejumlah makam tokoh penyebar Agama Islam di Indramayu. Salah satunya ziarah ke makam Kiai Sama’un Waliyullah di Dadap, Indramayu.

Penulis: Satim
Editor: Iing Rohimin