Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

KH Fuad Hasyim Jawab Pertanyaan tentang Khittah NU dan Pancasila

KH Fuad Hasyim Jawab Pertanyaan tentang Khittah NU dan Pancasila
KH Fuad Hasyim, salah seorang tokoh NU Jawa Barat dari Buntet Pesantren
KH Fuad Hasyim, salah seorang tokoh NU Jawa Barat dari Buntet Pesantren

Ketika Nahdlatul Ulama (NU) keluar dari politik praktis dan kembali ke Khittah 1926 dan menerima Pancasila sebagai asa tunggal, banyak yang mempertanyakan dua hal, pertama, apakah NU kemudian menjadi sekuler? Kedua, bagaimana dengan nasib aspirasi anggota NU sebagai warga negara siapa yang akan menjadi perantara? 

Dua pertanyaan ini dijawab oleh KH Fuad Hasyim dengan lugas. Dengan menerima Pancasila sebagai asas tunggal bukan berarti NU menjadi sekuler. Agama dan negara tetap berkesinambungan dan tidak bisa dipisahkan. 

NU didirikan dengan latar belakang rasa tanggung jawab para ulama untuk amar ma'ruf nahi munkar. Tanggung jawab ini dilaksanakan dengan memastikan negara menjalankan fungsinya sesuai dengan ajaran Islam.

Pancasila diterima sebagai asas tunggal karena Pancasila menjadi pintu masuk pelaksanaan ajaran Islam dengan baik. Proses ini bukan tiba-tiba, tetapi dimulai sejak perumusan. NU ingin memastikan bahwa dasar negara yang digunakan tidak akan menabrak syariat dan justru memperkuat.

Terhadap pertanyaan kedua, KH Fuad Hasyim mendedahkan bahwa kembalinya NU kepada khittah 1926 adalah upaya kembali kepada maksud dan tujuan NU didirikan. NU dirikan oleh para Ulama. Nahdlatul Ulama adalah Kebangkitan para ulama, organisasinya para ulama. 

“Wahai, siapa yang mau ikut NU, silakan. Syaratnya cuma satu yaitu siapa pun Anda harus siap dipimpin dan diatur ulama!” 

Khittah1926 mengembalikan ulama sebagai pembawa ilmu, sebagai pembimbing ummat. NU berjuang bukan karena aspirasi anggota. NU berjuang atas dasar perintah Allah terkait kewajiban amar makruf nahi munkar.

NU berdiri di atas semua golongan dengan tujuan memastikan negara mensejahterakan rakyatnya melalui kebijakan-kebijakan dan perangkat-perangkatnya.

Penulis: Muhyidin
Editor: Abdullah Alawi 

Tulisan ini disarikan dari ceramah KH Fuad Hasyim di Konferwil PWNU Jawa Barat tahun 1990 di Pondok Pesantren Sukamiskin, Kota Bandung