Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download
Lipsus Covid-19

​​​​​​​Nahdliyin Indramayu Galang Donasi Untuk Biaya Pemulihan Dampak Covid-19 di Pesantren

​​​​​​​Nahdliyin Indramayu Galang Donasi Untuk Biaya Pemulihan Dampak Covid-19 di Pesantren
NU Online Jabar/Ilustrasi : NU Online
NU Online Jabar/Ilustrasi : NU Online

Indramayu, NU Online Jabar
Ketika mendengar khabar tentang adanya sebuah pesantren di Indramayu Barat yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 dan para santri harus melakukan isolasi mandiri dalam ruangan khusus, Nahdliyin Indramayu langsung menggalang donasi untuk membantu biaya pengobatan dan makan para santri.

Ajakan donasi langsung menyebar di beberapa Grup WhatsApp yang berisi pengurus NU di berbagai tingkatan dan keluarga besar Nahdlatul Ulama Indramayu, dalam waktu cepat banyak mulai mentransfer sejumlah uang sumbangan ke rekening pengurus pesantren.

Salah seorang yang turut melakukan donasi untuk pesantren yang terpapar covid-19, Nurjaenudin yang juga menjabat sebagai Ketua LPNU Indramayu, kepada NU Online Jabar, Ahad (29/11) mengaku turut terpanggil untuk membantu pesantren yang saat ini tengah melakukan isolasi mandiri, karena ada beberapa santrinya yang dinyatakan positif Covid-19.

“Terus terang kami semua kaget dan merasa prihatin atas adanya pesantren di Indramayu yang menjadi klaster penyebaran Covid-19, maka ketika ada ajakan untuk melakukan donasi, saya merasa terpanggil untuk turut serta membantu,” Tutur Nurjaenudin yang akrab dipanggil Bang Jay.

“Meskipun bantuan tersebut alakadarnya, tetapi yang terpenting adalah kepedulain dan kekompakan Nahdliyin untuk bersama-sama membantu pesantren tersebut,” tuturnya.

Ditambahkan Bang Jay, dirinya mengajak kepada seluruh Nahdliyin untuk bersama-sama meringankan beban pesantren yang tengah di Lock Down tersebut, karena pasti membutuhkan biaya besar untuk pemulihan para santri, makan minum dan biaya operasional lainnya.

“Dengan kekompakan dan kebersamaan maka beban berat yang saat ini tengah dihadapi pesantren itu pasti akan mampu ditanggulangi, kita juga turut mendoakan semoga  santri dan para pengajar yang dinyatakan positif dapat segera sembuh kembali dan pesantren pun bisa menjalankan aktifitas pengajarannya seperti sediakala,” ungkap Bang Jay.

Sementara, salah seorang pengurus pesantren yang saat ini tengah melakukan isolasi mandiri dan meminta namanya tidak dipublikasikan, juga berharap agar nama pesantrennya tidak disebutkan. kepada NU Online Jabar melalui sambungan telepon, Ahad (29/11) menjelaskan, selain bantuan dari donasi yang digalang Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) pihaknya juga menerima bantuan dari masyarakat setempat yang bergotong-royong meringankan beban pesantren.

“Alhamdulillah begitu banyak kepedulian dari Nahdliyin terhadap kami, tentu saja kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian tersebut dan bantuan itu sangat berarti bagi kami,” tuturnya.
Ditambahkan olehnya, seluruh santri dan tenaga pengajar saat ini sudah dilakukan SWAB lanjutan dan tinggal menunggu hasilnya. 

“Setelah dilakukan SWAB lanjutan, semoga tidak ada lagi yang positif sehingga kami bisa lebih fokus menangani santri yang saat ini tengah melakukan isolasi mandiri,” jelasnya.

Dikatakan sang pengurus pesantren tersebut, total santri dan tenaga pengajar yang telah dilakukan SWAB lanjutan mencapai 200 orang lebih, sedangkan pesantren tersebut memiliki lembaga pendidikan formal mulai dari RA, MI, MTs, MA dan DTA dengan total siswa dan tenaga pengajar mencapai 1.500 orang lebih.

“Meskipun jumlah siswa dan tenaga pengajar ribuan orang, namun kami telah lama menutup pembelajaran tatap muka dan menerapkan pembelajaran daring, sehingga tidak perlu dilakukan SWAB terhadap mereka semua, karena memang berdasarkan hasil tracing dan tracking juga hanya para santri yang mukim di pesantren saja yang harus dilakukan SWAB,” ujarnya. 

Dijelaskan, secara umum para santri yang tengah melakukan isolasi mandiri tidak menunjukkan gejala sakit, atau dikenal dengan istilah Orang Tanpa Gejala (OTG), sehingga pihak pesantren berharap setelah dilakukan isolasi mandiri, penanganan intensif, pengobatan dan penerapan pola hidup yang sehat, maka saat dilakukan SWAB ulang nanti  semuanya akan negatif.

“Kami memohon doa kepada semua pihak semoga isolasi mandiri yang tengah dilakukan dan pesantrenpun harus ditutup dari akses luar (lock down), dalam waktu yang tidak lama lagi akan bisa kembali seperti sediakala dan pembelajaran serta aktifitas pesantren pun akan normal kembali,” harapnya.

Di ahkir keterangan, pengurus pesantren berharap agar perhatian pemerintah lebih ditingkatkan lagi, karena hingga saat ini belum ada bantuan resmi yang menggunakan dana Covid-19 dari APBD Indramayu.

“Kami baru mendapatkan bantuan dari Puskesmas berupa obat-obatan, vitamin dan beberapa bentuk lain, sementara dari Pemkab Indramayu khususnya GTPP Covid-19 belum kami terima, padahal kami mendengar katanya biaya pengobatan untuk yang positif itu sudah dianggarkan oleh pemerintah,” ungkapnya.

“Tetapi kenapa ketika kami melakukan isolasi mandiri di pesantren, karena alasan rumah sakit rujukan belum siap, kok tidak ada bantuan biaya sama sekali, semoga hal ini menjadi perhatian serius dari Pemkab Indramayu,” tutupnya.

Pewarta: Iing Rohimin 
Editor: Muhyiddin